Jumat, 23 Maret 2012

Sepotong Sejarah Aceh yang Dibelokkan

"Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". Saya ulangi lagi, "betulkah ini ?". (Tgk Muhammad Daud Beureu'eh)

Sepotong sejarah Republik menyangkut Aceh yang banyak dilupakan. Yaitu soal peran Aceh penyelamatan krisis fatal pada akhir tahun 1949. Bila ini dikemukakan, bukan karena ingin Aceh dipuji. Tetapi karena sejarah harus ditulis apa adanya, tidak boleh ditutup, distorted atau direkayasa.

Sejarah mesti murni untuk diwariskan kepada generasinya. Dan apa yang penulis lihat meski itu singkat, tidak terdapat dalam buku- buku sejarah RI yang diajarkan di sekolah-sekolah. Juga penulis tidak melihjat di media yang ditulis sejarawan kita, hatta oleh ahli sejarah Aceh sendiri.

Penulis bukanlah ahli sejarah, tapi salah seorang pelaku sejarah Aceh. Dan kesempatan ini mencoba memaparkan apa yang banyak dilupakan orang. Misalnya, tentang perjuangan Tgk Muhammad Daud Beureueh (akrab disapa Abu). Beliau ulama besar, bukan saja bersaja untuk Aceh, tapi untuk republik tercinta ini. Ia tidak saja berhasil menegmbangkan syiar Islam secara luas tapi juga menjadi pemimpin rakyat (people leader). Abu membangun "Aceh Baru" yang demokratis, bebas dari penghisapan atau penindasan manusia oleh manusia (exploitation delhomme par home).

Sedangkan bagi Republik Indonesia beliau berjasa sebagai penyelamat. Sejarah itu yang tak tertulis di buku-buku sejarah sekolah mana pun. Kecuali beliau diklaim sebagai pemerontak Republik hingga akhir hayatnya. Begitu juga dua pejuang penyalamat lainnya, yaitu Mr Sjafruddin Prawiranegara, Kepala Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan LN Palar, Duta Besar Indonesia di PBB.

Sekilas tentang sejarah, bahwa pada akhir tahun 1949, RI ditimpa kritis yang fatal. Hampir seluruh wilayah sudah diduduki Belanda. lbukota Republik pun sudah dikuasainya. Presiden dan wakil Presiden sudah ditangkap Belanda dan dibuang --kalau saya tidak salah dibuang ke Pulau Bangka.

Mr Sjafruddin Prawiranegara yang sempat diangkat sebagai Kepala Pemerintah Republik Indonesia, bergegas-gegas mengungsi ke Bukit Tinggi. Karena merasa tidak aman di Bukit Tinggi, beliau mengungsi ke Aceh, sebuah wilayah Republik yang belum dapat diduduki oleh Belanda. Jadi, masih tetap sebagai territory legal dari Republik Indonesia. Mengikuti Pak Sjafruddin Prawiranegara Tinggi dari ketiga Angkatan pun mengungsi ke Aceh. Dari Staff Angkatan Darat Kol Hidayat, dari staff Angkatan Udara Suyoso, dan dari Staff Angkatan Laut Komodor Subiyakto. Pada kali pertama pemimpin-pemimpin Aceh yang terdiri dari Abu Beureueh, Tgk Abdul Wahab Seulimum, Hasan Ali dan M. Nur El Ibrahimy sendiri berkunjung kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara.

Pertama-tama yang dituntut adalah membentuk Propinsi Aceh, yang dijanjikan oleh Presiden Soekarno. Di depan Abu Beureueh pada waktu beliau datang ke Aceh pada tahun 1947, Soekarno bersumpah dua kali, ternyata dua tahun ditunggu, janji itu tidak dipenuhi.

Saat itu Pak Sjaf (panggilan Syafruddin) menjawab "jangan khawatir, dalam dua tiga hari ini, Propinsi Aceh akan saya bentuk, seperti yang diinginkan oleh rakyat Aceh. Seperti yang dijanjikan", Propinsi Aceh pun terbentuklah dengan PP Pengganti Undang-undang yang mulai berlaku pada tanggal 8 Desember 1949. Sebagai Gubernur Aceh yang Pertama diangkat Abu Beureueh. Beliau dibantu oleh sebuah badan yang disebut Badan Pemerintah Provinsi Aceh, yang terdiri dari T M Amien, Orang Kaya Salamuddin, A.R. Hasjim dan Saya sendiri.

Di seluruh Aceh rakyat bergembira karena keinginannya yang sejak lama tercapai, dan terbentuknya Provinsi Aceh, gampanglah bagi Jendral Mayor Tituler, Mantan Gubernur Militer Aceh, langkat dan tanah Karo Abu beureueh Sebagai Gubernur Areh sekarang untuk mengajak rakyat berjuang mati-matian mempertahankan Aceh jangan sampai dapat diduduki Belanda. Sebab kalau Aceh dapat diduduki Belanda, berarti tamatlah riwayat Republik Indonesia.

Untuk dimaklumi bahwa pertarungan yang sengit antara Aceh dan Belanda berpusat di perbatasan Aceh-Sumatera Utara (dikenal Medan Area). Yang dipertahankan dengat gigih oleh rakyat Aceh bersama TNI Devisi X Aceh, Barisan- Barisan mujahidin yang ketuanya Abu Beureueh, TP (Tentara Pelajar) dan TPI (Tentara Pelajar Islam). Maka berkat pimpinan yang solid dari Abu Beureueh pertahanan rakyat Aceh begkitu gigih, dan Medan Area tak bisa ditembusi tentara Belanda. Penjajah akhirnya kembali ke baraknya di kota Medan. Maka Republik Indonesia yang berada sekarat hidup kembali.

Semangat juang rakyat Aceh yang gigih diketahui LN Palar, Duta Besar RI di PBB yang sebelumnya sudah loyo, menjadi bangkit kembali. Beliau segera meminta PBB untuk memerintahkan kembali kedaulatan atas seluruh territory Republik Indonesia dikembalikan kepada pemerintah Indonesia Serikat, pada 17 Agustus 1950. Sayang sekali pada hari upacara penyerahan kembali kedaulatan atas RI kepada Pemerintah Indonesia oleh Belanda, Jendral Mayor Tituler Abu Daud yang saya anggap salah seorang penyelamat Republik Indoensia tidak diundang ke upacara tersebut.

Perlu dijelaskan bahwa sebelum penyerahan kedaulatan, di Aceh terjadi heboh besar, karena dibubarkan Propinsi Aceh. Heboh ni yang tadinya terjadi di Kota Raja (Banda Aceh sekarang) meluas sampai ke seluruh Aceh. Maka dilayangkanlah poster-poster dan Resolusi- resolusi kepada pemerintah. Heboh ini tidak dapat diatasi hingga terpaksalah pembesar-pembesar Negara dari pusat datang ke Aceh untuk menyenangkan rakyat, antara lain Mr Assaat (Mendagri)--namun rakyat tidak lagi mendengarkannya. Maka Bung Hatta yang kembali menjadi Wakil Presiden Negara Kesatuan NRI datang ke Aceh. Rakyat juga tidak menghiraukan apa yang dikatakannya.

Abu Beureueh Mantan Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, dan mantan Gubernur Aceh, menyatakan dengan tegas " Bahwa kalau Provinsi Aceh tidak dibentuk kembali, saya akan naik ke Gunung untuk membentuk Provinsi Aceh menurut keinginan kami sendiri". Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar juga dengan tegas mengatakan kalau provinsi Aceh tidak kembali dibentuk pegawai RI di seluruh Aceh meletakan jabatan.

Karena rakyat tidak bisa ditenangkan, Muhammad Natsir (Perdana Menteri Kabinet pertama NRI datang ke Aceh). Beliau mula - mula mengatakan pertemuan dengan petinggi - petinggi Aceh, kemudian melalui radio. Ia mengajak rakyat supaya tenang dan tidak khawatir. Beliau akan berusaha sekuat tenaga akan terbentuk kembali Propinsi Aceh. "Secara Intergral", artinya membentuk Propinsi di seluruh Indonesia. Betul-betul Natsir telah mengubah situasi yang panas menjadi suasana yang sejuk sehingga rakyat di seluruh Aceh tenang kembali, dan dengan penuh kepercayaan menunggu janji Perdana Menteri Pertama Natsir itu.

Sayang kabinet Natsir setelah kira-kira satu tahun bekerja, dijatuhkan oleh anggota - anggota DPR yang tidak menyetujui Provinsi Aceh yaitu PKI, PNI, Partai Indonesia Raya dan beberapa partai lainnya. Harapan rakyat Aceh untuk tegaknya sebuah Provinsi seperti yang diinginkan di tanah Rencong buyarlah semua. Provinsi Aceh baru dibentuk kembali setelah Abu Beureueh "naik gunung" (sebagai yang ditegaskan di depan Bung Hatta), beberapa waktu setelah jatuhnya Kabinet Ali Sastroamidjojo ( dari PNI) yang menggantikan
Kabinet Natsir.

Saat berkunjung ke Aceh pada tahun 1948, Soekarno mengucapkan janjinya dengan meyakinkan Daud Beureueh. Dimana cerita sumpah Soekarno dihadapan Teungku Muhammad Daud Beureueh itu adalah:

"Teungku Daud Beureueh pernah menyatakan: "Lebih setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, pada waktu tentara Belanda dan Sekutu sedang melancarkan serangan secara besar-besaran, dimana para pemuda kita sudah ribuan bergelimpangan gugur di medan perang, datanglah Sukarno ke Aceh...Dia datang menjumpai saya menerangkan peristiwa-peristiwa dan perkembangan revolusi." 
Dalam pertemuan itu saya tanya Sukarno: "Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". Saya ulangi lagi, "betulkah ini?". 
Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini".  
( Baca: S.S. Djuangga Batubara, Buku; Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77)


Ternyata akhirnya, ikrar Soekarno itu untuk: "akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana" hanyalah tipu muslihat saja. Sehingga Teungku Muhammad Dawud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953, yang sebagian isinya menyatakan bahwa;

"Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."

Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/07/sepotong-sejarah-aceh-yang-dibelokkan_16.html#ixzz1pwdRJ2Kp

Jumat, 09 Maret 2012

Sumpah Kerajaan Aceh

Raja boleh berganti dan kabinetnya boleh dirombak, tapi keteguhan sikap Kerjaan Aceh terhadap Belanda tidak pernah berubah. Aceh benar-benar seperti karang yang kekar dihantam gelombang. Hempasannya boleh saja membasahi, tapi ombak itu akan pecah menjadi buih dan terseret kembali ke tempatnya, tanpa mampu mengoyahkan kekokohan karang.
Begitulah Aceh yang dulu bersikap damai dalam diplomasinya dengan Belanda, kini Belanda datang sebagai gelombang yang ingin menghempas

dan membuat Aceh basah kuyup dengan hempasannya. Tapi bagi Aceh yang sudah kepalang basah mengambil sikap penolakan terhadap Belanda, akan menghadapinya dengan jantan. Gelombang tak akan mampu menakutkan orang yang sudah basah kuyup.
Gelombang itu adalah Belanda yang akan siap-siap masuk ke Aceh dengan angkatan perangnya. Namun sebelum serangan itu dilakukan Belanda beberapa kali menggertak Aceh dengan surat-surat ancamannya. Surat yang kemudian dijawab dengan santun namun tegas oleh Sulthan Aceh, Alaiddin Mahmud Syah. Cucuku Keumalahayati, kamu boleh cek surat-surat itu mungkin di arsip lama surat menyurat Gubernemen Hindia Belanda, itu mungkin tersimpan di Leiden atau bisa jadi di pusat dokumen nasional Belanda.
Pada 1 April 1873, ribuan rakyat Aceh sudah mengasah pedang dan rencong, mereka berjaga-jaga di sepanjang pantai mulai dari Ulee Lheue sampai Kuala Tari. Sementara di kejauhan di tengah Selat Malaka, beberapa kapal berbendera Belanda melepaskan jangkar. Namun mereka tak berani merapat ke daratan. Hanya setengah lusin pria berseragam militer yang turun ke darat dengan sebuah sekoci dayung. Mereka membawa bendera putih, dan terus mendayung hingga sekocinya mencium pasir di Pante Ceureumen.
Sekelompok pemuda Aceh dengan bertelanjang dada dan hanya menggenakan celana panjang hitam yang berbalut kain selutut, menghampirinya. Mereka tampak sangar dengan pedang dan siwah  di tangan. Mereka menangkap sekoci dan penumpangnya itu. Mendapat perlakukan seperti itu, si Belanda hanya angkat tangan sambil mengangkat tinggi-tinggi bendera putih seukuran kain sarung. Seorang lagi memperlihatkan selembar kertas tebal dan kasar bergulung.
Melihat gelagat seperti itu, seorang pemuda keluar dari bawah rimbun pohon cemara dan menghampiri mereka.
“Mereka mau berdamai, tanya sama si Belanda itu apa maksudnya?” kata pemuda itu.
Belum sempat ditanya, si Belanda menyerahkan kertas berbalut yang dibawanya. Ia hanya berkata singkat.
‘Sulthaan..sulthaann,..sulthaann,” katanya dengan logat sengaunya.
Para pemuda itu pun mengerti bahwa itu surat untuk Sulthan Aceh. Keenam Belanda itu dibawa berteduh di bawah pohon kelapa dan cemara. Mereka diawasi dengan senjata terhunus oleh pemuda-pemuda Aceh di pantai itu. Seorang pria lebih tua kemudian mengambil surat itu. Ia bergegas menunggangi kuda, membelah semak dan jalan setapak. Dua pria lainnya yang juga menunggang kuda mengikutinya dari belakang.
Penduduk sepanjang kampung pantai itu memperhatikan laju kuda yang tak biasa itu. Kalau pun ada patroli tentara kerajaan derap kuda tak sekencang itu. Pasti ada yang tidak beres. Penduduk sepanjang panta mulai cemas, apa lagi setelah desas-desus kedatangan Belanda jadi pembicaraan sejak sepekan sebelumnya. Melihat tingkah para pemuda yang siap-siap dengan pedang terhunus menuju pinggiran pantai, warga sudah mahfum, bahwa petaka itu sudah datang, dan perang akan berkecamuk.
Ketiga kuda itu terus melaju kencang, derap kakinya meninggalkan debu yang berterbangan di jalan masuk ke pusat kerajaan. Sampai di gerbang istana Darud Donya mereka memarkirkan kudanya dan dengan langkah cepat masuk ke alun-alun kerajaan. Surat itu diserahkan kepada seorang perempuan bertubuh tegap. Ia Laksamana dari divisi keumala cahaya yang bertugas sebagai komandan pasukan perempuan penjaga istana.
Ketiga pemuda dari pantai itu istirahat di balai-balai di bawah pohon rindang di perkarangan istana sambil menikmati suguhan air kelapa dan buah-buah segar dari pengawal istana. Mereka benar-benar kelelahan, butir-butir peluh mengalir di dahinya. Sementara belasan perempuan pengawal istana hilir mudik di sudut-sudut taman, mereka nampak banyak diam dan berada di ring pertama istana, sementara pria-pria terlatih berbadan kekar ada di ring kedua di alun-alun istana terus sampai ring tiga di gerbang. Begitulah seterusnya pengamanan berlapis dilakukan untuk menghadapi ancaman terburuk dari kedatangan Belanda.
Sementara di dalam istana, Sultan Alaiddin Mahmud Syah sedang memimpin rapat bersama para wazirnya (menteri). Melihat kedatangan laksamana divisi keumala cahaya itu, ia menghentikan sejenak rapatnya. Setelah membungkuk memberi salam dan hormat, laksamana itu menyerahkan surat yang dibawa dari pantai setelah oleh tiga pria berkuda kepada Sultan.
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menggangam erat-erat surat ujung surat itu dan membacanya dalam hati. Ia kemudian meremasnya. Para wazir penasaran dengan sikap Sulthan, mereka bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.
“Holanda kembali mengancam kita,” katanya singkat. Orang Aceh menyebut Belanda dengan sebutan Holanda.
Sulthan bangun dan berdiri di hadapan para wazirnya itu.
“Mereka terlalu congkak, sebelum Holanda itu sampai ke pesisir, siapkan penyambutan dengan meriam dan kelewang. Biar mereka tahu bahwa kita tidak sama dengan Jawa yang bisa dipermainkannya. Atas nama Allah dan nabi-Nya kita akan hadapi Holanda itu.” tegas Sultan.
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah benar-benar marah dengan surat ancaman Belanda itu, tapi seorang wazir yang bijaksana kemudian meminta Sulthan agar menjawab surat itu dengan santun. Sulthan menerima saran wazirnya itu. Ia pun meminta Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan untuk menulis konsep surat balasan kepada Belanda. Setelah beberapa kali perbaikan naskah, Sulthan menyetujui dan menerakan cap stempel kerajaan di surat itu atas namanya.
Di bagian akhir surat balasan itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menulis.
“…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa. (Sulthan Alaiddin Mahmud Syah—1 Safar 1290 Hijriah / 1 April 1873 Masehi)
Surat itu diserahkan kembali kepada laksamana  selaku kepala divisi keumala cahaya, yang kemudian diteruskan kepada tiga pemuda berkuda untuk membawanya ke pantai sebagai balasan kepada Belanda. Tiga pemuda itu terus memacu kudanya menuju pantai. Sepanjang jalan terdengar terikan “Allahu Akbar..” dari para penduduk yang dilewatinya.
Surat itu kemudian diberikan kepada seorang panglima yang memimpin ratusan pemuda di pantai itu. Ia membawanya kepada setengah lusin Belanda yang ketakutan di bawah pohon cemara. Setelah diberikan surat itu, kawanan Belanda itu berlayar kembali dengan sekoci dayungnya kembali ke kapal yang berlabuh jauh di lepas pantai.
Surat menyurat antara Belanda dan Sultah Aceh itu sudah berulang kali terjadi. Pihak Aceh tetap menolak untuk tunduk pada kekuasaan Belanda dengan segala risikonya. Bahkan dalam surat jawabannya, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menegaskan bahwa Aceh statusnya sebagai kerajaan berdaulat sama juga dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang sama-sama berada di bawah perlindungan tuhan.
Penolakan halus Sulthan Aceh itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangannya ke Aceh. Menyadari bahaya semakin dekat, Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Darud Dunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.
Kepada para wazir, ulama dan uleebalang, Sulthan Alauddin Mahmud Syah menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni armada militer Belanda yang sudah berada di Selat Malaka.
“Holanda, imperialis itu akan datang menyerang kita, maka ini hari saya permaklumkan rapat kerajaan membahas sikap penentangan kita dan mengatur siasat untuk menghadapinya,” kata Sulthan.
Rapat itu berjalan alot, para ulama dengan tegas mendukung sikap sulthan yang akan melawan Belanda, sikap yang sama juga ditunjukkan pada wazir selaku menteri kerajaan. Hanya kelompok uleebalang yang agak ragu, namun karena ulama bersama wazir sudah sependapatan, mereka akhirnya juga menyetujui untuk berperang melawan Belanda. Namun, kelak para uleebalang itu ada yang ingkar dengan membuka pintu dialog dengan Belanda, tentang itu cucuku Keumalahayati, akan kuceritakan nanti ketika sampai pada kisah pengkhianatan yang sampai sekarang belum mau diungkapkan oleh sejarawan manapun. Hasymi mengaku tahu tentang itu, tapi ia juga tak berani mengungkapkan pengkhianatan tersebut.
Cucuku, rapat kerajaan yang dipimpin Sulthan Alaiddin Mahmud Syah itu melahirkan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh. Sebagai tanda kesepakatan tekat tersebut, mereka yang mengikuti rapat kerajaan itu mengucapkan sumpah. Sumpah itu dipimpin oleh seorang ulama besar, Kadli Mu’adhham Mufti Besar Kerajaan Aceh, Syekh Marhabab bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dan disaksikan oleh para alim ulama.
Para wazir kerajaan bersama uleebalang dan petinggi kerajaan berbaris dalam aula kerjaan, mereka berdiri sejajar dalam beberapa barisan. Syeh Marhaban berdiri agak ke depan di ujung kanan menghadap mereka sambil mengangkat kitab suci Al Quran dengan kedua tangannya  melewati kepala. Sumpah kerjaaan Aceh pun diucapkannya dan diikuti dengan suara gemuruh oleh para wazir dan uleebalang. Sumpah itu berbunyi:
“Demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami thaat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini thaat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”
Cucuku, isi sumpah ini kemudian dicatat dan dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Dokumen sumpah itu kemudian disimpan oleh Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meuleuk, yang kemudian disimpan secara turun temurun oleh keturunannya. Cucuku, kalau kamu ingin melihat foto kopi naskah sumpah kerajaan Aceh itu, pulanglah kamu ke Aceh sayang, kakek akan membawamu ke Pustaka Hasjmy, karena di sana ada foto kopinya. Tapi sebelumnya, kusarankan padamu untuk belajar bahasa Arab, karena naskahnya ditulis dengan aksara Arab.
Cucuku, Keumalahayati, begitu tegasnya sumpah kerajaan Aceh itu. Dari isi sumpah itu, kakek bisa melihat bahwa benih-benih pengkhianatan terhadap Kerajaan Aceh dari pihak dalam sudah tumbuh. Coba kamu baca kembali penegasan dari sumpah itu. Sulthan Aceh menyadari akan adanya pembelot di jajarannya, maka ia mengikat sumpah itu, jika ada yang berkhianat terhadap sumpah tersebut, mereka akan dikutuk oleh Allah dan Rasul sampai kepada cucunya turun temurun. Dan itulah yang kemudian terjadi sampai hari ini di Aceh. Karena segolongan orang mengkhianati sumpah itu, generasi mereka di Aceh tercerai berai.
Cucuku Keumalahayati, setelah rapat kerajaan dan pengambilan sumpah dilakukan, seorang pria berbadan tegap dan kulit agak hitam, masuk ke aula pertemuan. Tak ramai yang mengenalnya, karena ia orang yang bekerja di dinas rahasia. Lelaki yang tampak klimis itu penampilannya agak berbeda dengan para pejabat kerajaan. Awalnya ia dikira salah seorang uleebalang dari satu wilayah di Aceh.
Ia masuk memberi salam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sulthan. Keduanya kemudian menuju ruang kerja Sulthan, sementara para wazir dan uleebalang dipersilahkan ke ruang penjamuan. Para wazir dan uleebalang penasaran dengan tingkah pria misterius itu. Sambil menikmati makan siang, mereka membicarakan tentang lelaki tersebut.
Tak lama kemudian Sulthan Alaiddin Mahmud Syah keluar dari ruang kerjanya bergabung kembali dengan para wazir dan uleebalang di ruang jamuan. Usai shalat dhuhur berjamaah di mesjid Baiturrahim dalam komplek istana, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah kembali melanjutkan pertemuan. Para wazir dan uleebalang merasa ada yang tidak beres, karena sebelumnya rapat kerajaan direncakanan hanya pagi saja, dan dianggap telah selesai setelah sumpah kerajaan diucapkan. Mereka pun kembali bertanya-tanya, tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Kehadiran lelaki misterius di ruang kerja Sulthan tadi mereka kait-kaitkan dengan rapat susulan tersebut.
Di hadapan para wazir dan uleebalang, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah berujar.
“Saya sudah dapat laporan dari Peutua Balei Sisasah Keurajeun bahwa Holanda sudah dapat dipastikan menyerang kerajaan kita ini,” katanya dengan suara nyaring dan tegas. Ternyata pria misterius yang masuk ke ruang kerja sulthan tadi adalah Peutua Balei Sisasah Keurajeun yakni kepala intelijen kerajaan.
Rapat susulan itu jadi riuh, ada yang cemas ada pula yang terlihat santai, namun kebanyakan terlihat tegang.
“Untuk menghadapi Holanda itu, maka hari ini dalam rapat ini saya akan membentuk kabinet perang,” lanjut Sulthan.
Sulthan benar-benar mempersiapkan peperangan besar untuk menghadapi Belanda. Ia meminta kepada para menterinya (wazir) untuk menyusun kabinet perang yang efektif dan efisien tanpa banyak birokrasi. Alasannya, urusan perang harus disegerakan, tidak boleh berbelit-belit dengan birokrasi pemerintahan. Atas dasar itu pula, para birokrat kerjaan harus terlibat dalam kabinet tersebut agar lebih mudah menjalankan roda pemerintahan dan peperagangan sekaligus dalam suasana genting.
Setelah menerima berbagai masukan dalam rapat itu, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menunjuk tiga wazir (menteri) untuk memimpin kabinet perang. Sulthan tetap bertindak sebagai kepala pemerintahan. Sementara untuk kabinet perang Sulthan menunjuk Tuanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah sebagai Wazirul Harb (Menteri Peperangan) merangkap sebagai panglima besar angkatan perang dengan pangkat Jenderal Tentara Aceh. Kemudian Tuanku Mahmud Banta Kecil Kadir Syah diangkat sebagai Wazirul Mizan Wazirul Dakhiliyah-Wazirul Kharijiah (Menteri Kehakiman merangkap Menteri dalam dan luar negeri) merangkap Wakil Kepala Pemerintahan. Sementara satu lagi Said Abdullah Teungku Di Meulek diangkat sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Negara) merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang dengan pangkat Letnan Jenderal Tentara Aceh.
Kabinet perang ini dilantik oleh sulthan pada Minggu 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 masehi). Mereka dilantik dan disumpahkan di dalam Mesjid Istana Baiturrahim. Upacara pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk. Ia berdiri menghadap ketiga pemimpin kabinet perang itu, mengangkat kitab suci Al Quran ke atas kepala mereka. Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk kemudian membaca sumpah yang diikuti oleh ketiga pemimpin kabinet perang itu.
Isi sumpah itu.
“Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barang siapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.”
Naskah sumpah itu kemudian dicatat dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab dan disimpan oleh Wazir Rama Setia sebagai dokumen baiat Kerajaan Aceh.
Setelah selesai pengambilan sumpah, maka kabinet perang mengeluarkan maklumat kepada seluruh Uleebalang dan rakyat Aceh. Maklumat itu disampaikan oleh Wakil Panglima Perang Said Abdulah tanggal 1 Muharram 1290 H (1873 M). Maklumat itu berjudul “Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Holanda.”
Maklumat tersebut dicatat dalam sarakata nasehat kerajaan. Isinya.
“Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Bahwa hamba memberi nasehati tuan-tuan atas nama Kerajaan Aceh beserta ahli waris kerajaan, dengan alim ulama dan rakyat Aceh khususnya, dan rakyat bawah angin umumnya.
Wahai tuan-tuan sekalian, hamba memberi perintah hari ini, bahwa sekalian tuan-tuan kita semuanya, bersiap siap dengan apa senjata saja yang ada pada kita masing-masing, karena kita semuanya akan menghadap bahaya maut yaitu dua perkara: pertama menang, kedua syahit, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu menyerah kalah kepada Holanda.
Ingatlah tuan-tuan, di sini hamba beri pernyataan dengan sahih sah muktamad, bahwa bangsa Holanda sudah duaratus limapuluh tahun menjajah negeri bawah angin di luar kita Aceh, sejengkal tanah Aceh jangan kita beri kepada musuh kita bersama, yaitu Holanda.
Maka barang siapa yang menyerah kepada Holanda dengan sebab tidak ada masyakkah, maka Holandalah ia. Maka orang seperti itu telah menjadi musuh Allah dan musuh Rasul dan musuh negeri dan musuh kerajaan. Maka tiap-tiap musuh seperti yang hamba sebut itu walau siapa-siapa, berhak kita bunuh sidurhaka itu, jangan kita sayang pada sibangsat itu. Kalau kita sayang pada sibangsat itu, negeri kita Aceh alamat binasa, sengsara, huruhara.
Bersatulah kita semuanya, melawan Holanda bangsa barat yang hendak merebut menjajah negeri kita Aceh. Jangan tuan-tuan ngeri dan takut, kita orang Islam wajib berperang melawan musuh dengan apa senjata yang ada pada kita masing-masing.
Maka barang siapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yang tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Ta’ala akan datang pada suatu zaman yang kebili keubilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil.
Ingatlah wahai sekalian tuan-tuan Hulubalang yang khadam negeri, mulai dahulu sampai sekarang hingga akan datang, bahwa tiap-tiap orang ada jabatan mengurus negeri dan mengurus rakyat, yaitu memelihara rakyat dengan menyuruh makruf dan mencegah mungkar, dan sekalian rakyat jangan tuan-tuan perbudakkan, dan sekalian rakyat bukan buat tuan-tuan hulubalang, tapi tuan-tuan yang hulubalang semuanya, timur barat tunong baroh, buat rakyat, yaitu menjaga mengurus dengan sempurna, supaya rakyat cinta kasih lahir batin pada sekalian tuan-tuan.
Wahai sekalian tuan-tuan, bahwa rakyat itu seperti air sungai yang sangat luas lagi dalam, dan pucuknya dalam rimba gunung yang bercabang-cabang. Jika satu kali turun hujan besar, semua turun air ke dalam sungai, maka jadi banjirlah mengamuk air ke mana-mana, maka binasalah sekalian tanaman, apa-apa yang ada semuanya sudah tenggelam dengan air…”
Cucuku Keumalahayati, begitu tegas dan patriotiknya isi sumpah dan maklumat itu. Kabinet perang menyerukan semangat jihat fi sabilillah untuk melawan Belanda. Pun juga cucuku, kabinet perang menegaskan kepada para uleebalang agar tetap bersama rakyat bahu membahu melawan Belanda. Bila ada uleebalang yang memihak Belanda atau membantunya masuk ke Aceh, maka uleebalang itu adalah musuh bersama, musuh rakyat Aceh, keturunannya kelak akan kacau balau dan mati bersimbah darah bila ingkar terhadap sumpah kerajaan dan mangkir dari kewajiban jihat melawan Belanda. Ini pula yang kelak terjadi cucuku, yang membuat Aceh tak pernah aman dari konflik.
Setelah maklumat kabinet perang itu disampaikan ke seluruh pelosok negeri, rakyat berduyun-duyun menuju pantai untuk menghadapi kedatangan Belanda. Para panglima perang di setiap wilayah menyiapkan kader-kadernya untuk menghadapi ancaman perang dari Belanda. Para pemuda direkrut dan dengan suka rela memperkuat barisan tentara kerajaan. Dalam tempo singkat angkatan perang Aceh bertambah banyak. Dan perang besar tak lama lagi memang akan terjadi, perang yang memberi tamparan bagi kecongkakan Belanda.
Pada pada Senin 10 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) Sultan Alaiddin Mahmud Syah kembali memimpin musyawarah penting di dalam mesjid Istana Baiturrahim. Musyawarah itu dihadiri oleh para uleebalang dan para panglima. Dalam musyawarah tersebut sultan menjelaskan bahwa keadaan Aceh sudah sangat genting, surat menyurat dengan pemerintah Hindia Belanda semakin tegang. Mungkin dalam satu dua bulan ke depan Belanda akan menyerang Aceh.
Mendapat penjelasan seperti itu, maka para uleebalang dan para panglima diminta untuk mempersiapkan pasukan di wilayah masing-masing untuk menghadapi serangan Belanda yang sewaktu-waktu bisa datang untuk memerangi Aceh. Perang yang akan digelorakan kali ini bukanlah sembarangan perang cucuku, perang kali ini adalah perang demi martabat Aceh. Ini resmi perang kerajaan yang ditandai dengan surat Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang berisi perintah untuk melawan Belanda.
Surat perintah itu dikeluarkan pada 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) setelah melantik kabinet perang yang dikepalai oleh Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Aceh.
Sultan menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari ancaman perang oleh Belanda. Ia pun memberi penjelasan tentang hal itu kepada kabinet perang bentukannya. Setelah penjelasan itu diberikan, maka Wazir Rama Setia/ Wakil Panglima Besar, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan surat perintah yang berisi pemberitahuan kepada uleebalang seluruh Aceh untuk menjaga pantai Aceh dari serangan Belanda, mulai dari Kuala Gigieng dan Ladong, Kampung Pande Meunasah Kandang, Kuta Reuntang, Kuta Aceh, Pante Pirak, Babah Krueng dari Beurawe dan Gunung Kesumba.
“Tiap tempat tersebut jangan tuan-tuan tinggalkan. Kalau tuan tinggalkan tempat tersebut, salah satu tempat itu, maka musuh Holanda senang saja menyerang kita Aceh,” Perintah Sultan Alaiddin Mahmud Syah.
Dalam surat itu Sultan juga meminta kepada rakyat Aceh untuk saling bantu membantu dalam usaha melawan Belanda yang akan menyerang Aceh.
“Jangan tuan-tuan berkhianat kepada Agama Islam, durhaka kepada Allah dan Rasul, durhaka kepada kerajaan dan tidak setia kepada neger dan bangsa,” lanjut Sultan dalam suratnya. Sultan juga memerintahkan untuk menghukum mati siapa saja yang memihak atau membantu Belanda (Holanda) dalam usahanya untuk menaklukkan Aceh.
Kemudian cucuku, setelah memastikan bahwa Belanda akan benar-benar menyerang Aceh, maka Sulthan kembali mengadakan musyawarah besar di Mesjid Baiturrahman yang terletak di tengah-tengah ibu kota kerajaan Aceh. Hadir dalam musyawarah itu para ulama besar seluruh Aceh, para uleebalang, para panglima, para imam, para imum mukim, keujruen dan pembesar kerajaan lainnya.
Setelah Sulthan mejelaskan bahwa kerajaan telah bertekat bulat tidak akan tunduk pada Belanda, maka Wazir Rama Setia yang merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan sarakata pernyataan perang. Sarakata tersebut bertanggal Kamis 20 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi).
Salah satu bagian isi sara kata tersebut adalah:
“…Dan sampaikan amanah hamba kepada seluruh rakyat Aceh, timu barat, tunong baroh, tuha muda, kaya dan miskin hendaklah melawan Holanda, jangan berhenti-henti dengan apa saja, yaitu perkataan, perbuatan, senjata, khusus rakyat Aceh dan umumnya rakyat bawah angin, jangan takut, jangan ngeri. Kita berperang dua menghadap maut, yaitu syahid, kedua menang, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu kalah dengan menyerah diri kepada Holanda…”
Pada bagian surat lainnya Sultan Aceh kembali meminta dengan tegas agar terus melawan Belanda dan tidak pernah tunduk apalagi menyerah kepada Belanda.
“…Maka itulah wahai sekalian hulubalang Pidie semuanya, dan sekalian hulubalang Pase semuanya, Aceh Timu semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Tengah semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Barat semuanya, dan sekalian hulubalang Aceh Selatan semuanya, datok dan keujruen dan sekalian rakyat pada masing-masing tempat daerah tersebut, hendaklah pada sekalian tuan-tuan mengikuti menurut melawan Holanda berganti-ganti sehingga berhenti Holanda musuh kita, tidak lagi duduk di atas bumi negeri Aceh khususnya dan bumi bawah angin umumnya…”
Cucuku Keumalahayati, dari surat-surat yang dikelurakan oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah itu jelas bahwa kerajaan Aceh telah mengadakan persiapan yang matang untuk menghadapi Belanda. Rakyat Aceh diajak untuk menyumbangkan harta benda, tenaga dan nyawa untuk menghalau Belanda masuk ke Aceh. Untuk memberikan contoh pada rakyat, maka para petinggi Kerajaan Aceh terlebih dahulu menyumbangkan hartanya untuk digunakan dalam perang melawan Belanda.
Saat itu, Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek menyumbang 16 kilogram emas dan 4.700 riyal untuk biaya perang. Sumbangan itu diberikan pada bulan Rabiul Awal 1290 Hijriah (1873 Masehi) dan dicatat dalam sarakata risalah sedekah bertulis tangan huruf Arab, yang kemudian menjadi dokumen kerajaan peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh.
Cucuku Keumalahayati, Untuk menghadapi ancaman Belanda yang kian nyata menyerang kedaulatan Aceh, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah bersama kabinet perangnya terus mengadakan berbagai persiapan untuk menghadapi kemungkinan penyerangan Belanda tersebut.
Sultan mengemukakan ancaman Belanda tersebut kepada Majelis Mahkamah Rakyat yang beranggotakan 73 orang wakil rakyat. Hal ini sebagaimana tersirat dalam Kanun Meukuta Alam halaman 90-91, naskah lama bertulis tangan dengan huruf Arab.
Dalam dokumen lama kerajaan Aceh disebutkan, ketika pada masa-masa tegang menghadapi ancaman Belanda, Pada Jumat 30 Zulhijjah 1289 Hijriah (1872 Masehi) Kerajaan Aceh kembali menggelar sidang istimewa di dalam Mesjid Baiturrahman Bandar Aceh Darussalam. Sidang istimewa itu disebut sebagai sidang istimewa Balai Majelis Mahkamah Rakyat.
Dalam sidang itu disampaikan khutbah kerajaan yang dibacakan oleh Said Abdullah Teungku Di Meulek dalam kedudukannya sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Kerajaan) dan sebagai Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh dengan pangkat Letnan Jendral.
Sidang istimewa itu selain dihadiri oleh 73 orang anggota Balai majelis Mahkamah Rakyat juga diundang para uleebalang, para ulama, pimpinan rakyat dan para perwira angkatan perang.
Khutbah kerajaan yang dibacakan Said Abdullah Teungku Di Meulek dalam sidang istimewa itu diantaranya berisi perintah dari keputusan mufakat kerajaan untuk menghadapi Belanda. Salah satu bagian isi khutbah itu berbunyi:
“…dengan keputusan sabda mufakat Kerjaaan Aceh Bandar Darussalam beserta ijma mufakat alim ulama yang guru-guru hamba dan payung hamba, maka di sini sekarang ini hingga akan datang turun menurun salin-malin masing-masing terus menerus, hamba amanahkan dan hamba wasiatkan, bahwa kita semua akan menghadapi maut, yang hendak menyerang negeri kita ini oleh Holanda dan beserta kaum kerabat ahli warisnya Holanda yang tidak jauh dengan kita yaitu sahabat karib Holanda, yaitu yang khianat pada agama Islam, dan khianat pada negeri, dan khianat pada bangsa, dan khianat pada kerajaan Aceh…”
Pada bagian lainnya surat itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menekankan kewajiban bagi rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda sebagai perang fi sabilillah, serta jangan pernah menyerah kepada jajahan negeri tersebut. Dalam khutbah itu ia kembali menegaskan:
“…Wahai sekalian tuan-tuan yang hamba Allah semua! Bahwa kita semua akan menghadapi maut fi sabilillah yaitu dua perkara: pertama menang perang, kedua syahid, ketiga tak ada sekali-kali yaitu menyerah kepada Holanda…”
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah di bagian tengah khutbah kerjaan yang dibacakan Said Abdullah Teungku Di Meulek itu juga menegaskan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan rakyat dalam menghadapi ancaman agresi militer Belanda yang saat itu semakin nyata saja akan menyerang kedaulatan Kerajaan Aceh. Ia juga meminta untuk tidak mengampuni para pengkhianat yang membantu Belanda masuk ke Aceh.
“…Holanda itu musuh kita dan musuh anak cucu kita. Tuan-tuan jangan takut, jangan ngeri tuan-tuan menghantam Holanda dan sekalian kaum sahabat karib Holanda, bunuhlah pengkhianat negeri walau siapa sekalipun. Ingat yang musuh tetap musuh…”
Dalam khutbah itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah juga menyinggung tentang nasib masyarakat Jawa yang saat itu sudah 250 tahun di jajah oleh Belanda. Ia menyebutnya sebagai negeri di bawah angin yang berpusat di Jawakarta.
Sultan menjelaskan tentang penderitaan rakyat Jawa yang sudah dua setengah abad dikuasai Belanda waktu itu. Ia tidak ingin rakyat Aceh mengalami nasib yang sama seperti Jawa yang telah dikuasai Belanda dan diperas hasil buminya.  Ia mengambarkan jajahan Belanda terhadap Jawa itu sebagai tragedi penghisab darah.
“…Ingat tuan-tuan, bahwa Holanda berkulit delima putih sudah dua ratus lima puluh tahun menjajah Negeri Bawah Angin yang berpusat di Jawakarta, menganiaya rakyat bawah angin dengan merampas harta rakyat bawah angin, mengazab dan menghisap darah rakyat bawah angin. Turun temurun rakyat bawah angin dalam azab sengsara yang diperbuat oleh Holanda atas rakyat bawah angin…”
Sulthan juga menyinggung tentang akan munculnya golongan dan orang-orang yang akan membantu Belanda di Aceh. Mereka merupakan para pengkhianat yang akan membantu Belanda masuk Aceh. Mereka yang menjadi duri dalam daging yang menggunting dalam lipatan itu oleh Sulthan Alaiddin Mahmud Syah disebut sebagai Belanda kulit hitam.
Mereka inilah  yang digolongkan dalam musuh besar agama dan musuh kerajaan Aceh. Analisa Sulthan Alaiddin Mahmud Syah terhadap kemungkinan munculnya golongan ini sangat jelas dalam khutbahnya itu. Sebelum Belanda benar-benar masuk dan menyerang Aceh, ia yakin akan muncul golongan pengkhianat yang kemudian dikenal sebagai cuak, golongan yang selalu muncul dalam sejarah perang Aceh. Analisa ini disampaikannya berdasarkan laporan dari Peutua Balei Sisasah Keurajeun yakni kepala intelijen kerajaan.
Badan intelijen kerajaan menangkap adanya orang-orang dari Jawa yang menjadi kaki tangan Belanda, mulai masuk ke Aceh untuk mempengaruhi para uleebalang agar menerima kedatangan Belanda. Karena itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menyerukan kepada rakyat untuk tidak terpengaruh dan tetap bahu membahu melawan Belanda.
Kepada rakyat Aceh ia sampaikan seruannya.
“…hendaklah kita bersatu, bahu membahu berpegang alat senjata apa saja yang ada, kita lawan, kita hantam, kita hancurkan musuh kita, yaitu Holanda kulit delima putih dan Holanda hitam warna kulit, yang dekat dengan kita. Maka hendaklah tuan-tuan sapu bersih dua macam Holanda, yaitu satu Holanda luar negeri dan satu lagi Holanda dalam negeri Aceh sendiri..”
Isi khutbah kerajaan Aceh dari Sulthan Alaiddin Mahmud Syah itu dicatat dalam sara kata kerajaan, naskahnya bertulis tangan dengan mengunakan huruf Arab. Naskah-naskah tersebut disimpan oleh selaku Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh.
Cucuku, kalau kamu ingin melihat dokumen itu ada pada ketrurunan Said Abdullah Teungu Di Meulek yang menyimpannya secara turun temurun sebagai dokumen penting kerajaan Aceh.

Kontroversi Bendera Kerajaan Aceh

Kontroversi Bendera Kerajaan Aceh



"...Ada yang mengatakan bahwa bendera Kerajaan Aceh Darussalam berlambang bulan bintang. Namun sumber tertulis yang tertua dari Belanda menyatakan bahwa bendera Aceh berlambang dua rencong atau pedang. Kontroversi masih berlanjut..."



INI dia Alam Peudeung kita,” kata Sejarawan Aceh sekaligus Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Rusdi Sufi. Ia menunjukkan sebuah ilustrasi bendera berwarna merah dengan lambang bulan bintang dan pedang on jok, pedang khas Aceh yang berbentuk daun aren yang terletak melintang di bawah lambang bulan bintang itu.

Alam Peudeung

Dalam bahasa Aceh, “alam” yang berasal dari bahasa Arab berarti bendera dan “peudeung” adalah pedang. Alam Peudeung merupakan bendera Kerajaan Aceh Darussalam berdasarkan catatan sejarah yang ditulis pihak Belanda. Namun belum ada catatan sejarah yang cukup jelas menggambarkan wujudnya.


Sedangkan ini bendera juga, tapi untuk membangkitkan semangat perang,” katanya, sambil menunjukkan foto bendera yang lain.

Memang banyak versi, tapi saya cenderung dengan ini,” katanya, seraya menunjukkan ilustrasi Alam Peudeung yang tampil dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara karya Zainuddin yang ditunjukkannya pertama kali tadi.

Pada halaman pembukaan buku tersebut terdapat ilustrasi bendera Aceh di masa Kerajaan Aceh Darussalam. “Alam Atjeh”, begitu judul yang tertera di halaman itu. Kemudian terdapat syair berbahasa Aceh yang mengatakan, di Aceh ada Alam Peudeung, Cap Sikureung di tangan raja dan menceritakan kegemilangan sejarah Aceh.


Kalau dulu orang aceh cenderung menerima Alam Peudeung yang ini (menunjuk versi Zainuddin). Ada pedangnya kan!, dengan bulan bintang, warnanya merah bukan kuning,” kata Rusdi dengan penuh keyakinan.


Kalau yang ini (menunjukkan foto bendera merah yang satunya) banyak sekali ditemukan waktu perang dan modelnya juga banyak betul. Ada juga yang kuning dengan pedang ganda,” katanya.

Dalam pertempuran antara pasukan Belanda dan Kerajaan Aceh di Barus tahun 1840, Belanda berhasil merebut bendera perang pasukan Aceh. Warna dasar bendera itu merah, ada gambar pedang melintang dan di sudut atas bagian gagangnya ada bulatan seperti bulan purnama berwarna putih. Bulatan dan pedang tersebut bertuliskan tulisan Arab dengan kandungan doa-doa mohon perlindungan kepada Allah. Itulah gambar bendera yang dimaksud Rusdi sebagai bendera “waktu perang”.

Sejak dulu ini bendera kita (menunjuk versi Zainuddin), tapi bagaimana ditemukan kurang jelas,” tuturnya.

Kalau ini untuk kepentingan perang,” Ia kembali menunjuk bendera yang direbut Belanda dari tentara kerajaan Aceh di Barus tadi.

Sejak Aceh Darussalam terbentuk ini sudah ada. Bagaimana ditemukan, saya tidak jelas. Tapi ada sumber yang bilang inilah Alam Peudeung,” ujarnya, lagi-lagi menunjuk gambar bendera dengan lambang bulan bintang di buku Zainuddin.


Ya… seperti merah putih kan ada yang bilang yang menemukannya Mpu Tantular. Tapi itu kan dongeng. Yang jelas kemudian itu jadi bendera negara kita kan.” Ia tertawa.

Selain menjabat direktur PDIA, Rusdi juga berprofesi sebagai dosen Sejarah Aceh di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala.

Lantas bagaimana dengan bendera hijau yang dikatakan dikibarkan saat damai?” tanya saya.

“Itu cerita kemudian, tapi yang jelas bendera Aceh itu merah ya, bisa kita lihat dalam naskah-naskah. Kemudian ada orang yang membuat warna hijau disimbolkan sebagai sejuk damai. Itu macam-macam kejadiannya. Bisa karena karya pujangga lukisan,” jawabnya.

Tapi tidak mungkin saboh nanggroe (satu negeri) dua bendera kan, hahahaha… Bendera itu kan, lambang, simbol kerajaan artinya identitas. Itu saya kira,” lanjutnya.


Bendera kita (Alam Peudeung) mirip dengan bendera bulan bintang Turki ya?” tanya saya.

Iya, kalau ini tidak ada.” Rusdi menutup gambar pedang on jok pada gambar bendera tersebut dengan tangannya. “Bendera Turki kan.” Senyumnya mengembang, setelah mengucapkannya.

Ia mengatakan bahwa hubungan Aceh dan Turki sudah terbina sejak masa Sultan Ala’ad-din Riayat Syah al-Kahar. Ketika itu armada Turki dan tenaga ahli mereka dikirim ke Aceh sebagai wujud persahabatan.

Tenaga ahli dari Turki itu kemudian menetap di Aceh. Konon katanya perkampungan mereka di Emperom,” katanya, sambil menggoyang-goyang kursinya.


Empu itu kan artinya tukang atau ahli. Rom itu kan simbol atau istilah untuk menyebut Romawi Timur, tapi Rom di sini maksudnya Turki.

Sultan Kerajaan Aceh Darussalam generasi ke-3 , Ala’ad-din Riayat Syah al-Kahar (1537) mengambil langkah resmi mengakui kekuasaan Sultan Turki atas Aceh, dengan imbalan berupa bantuan militer turki untuk melawan Portugis. Kenangan-kenangan dari hubungan singkat ini terus dihidupkan di Aceh oleh bendera merah Ottoman yang masih dikibarkan oleh para sultan, dan oleh meriam besar “lada secupak” yang menjaga dalam (istana raja dan perkarangan) di Banda Aceh.

Bendera dan meriam ini dihormati sebagai pemberian khalifah, lambang perlindungan bagi kerajaan bawahannya yang terletak nun jauh di sana.

ADA semacam kesepakatan dari kedua belah pihak bahwa Aceh itu adalah proktektorat Turki. Jadi setiap tahun ada hadiah dari Aceh ke Turki sebagai pengakuan persaudaraan,” kata Ketua Museum Aceh, Nurdin AR kepada saya di tempat yang berbeda.

Semacam upeti?” tanya saya.


Jangan dibilang upeti lah, katakanlah semacam hadiah. Demikian juga dengan Turki, negara itu juga kasih bantuan banyak sekali atas pemintaan al-Kahar. Ada bantuan armada, tenaga ahli, ada transfer ilmu teknologi perang juga,” katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Nurdin bertubuh berisi. Wajahnya mungil, berkacamata dan penuh senyum. Pagi itu Nurdin bersetelan kuning khas Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di waktu senggangnya, ia sering terlihat memperhatikan ruang koleksi buku museum yang terdapat tepat di depan ruang kerjanya.

Kemudian teknik bertempur. Di Aceh itu dikenal dengan seni bela diri geudeu-geudeu, yang masih dipertunjukkan di Pidie. Itu dulu latihan perang-perangan yang di bawa dari Turki. Sekarang katanya, saya tidak pernah ke Turki… katanya ada salah satu suku di situ ada seni bela diri seperti geudeu-geudeu di Sigli,” katanya, bangga.

Nurdin juga mengatakan bahwa banyak armada Turki yang diberikan untuk Aceh sehingga armada tersebut masih dipakai di masa sultan Aceh yang sangat tersohor, yaitu Iskandar Muda.

Jadi kemudian ada emosi barangkali, kedekatan emosi antara orang atau Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Turki Usmani, juga karena keyakinannya,” katanya.


Sultan Selim II dari Kemaharajaan Turki dinasti Ottoman mengirimkan 15 kapal perang dan dua kapal pembekalan untuk menyokong Aceh melawan Portugis. Pemberian bantuan dilakukan melalui firman (keputusan) Sultan Selim II, tertanggal 20 September 1567, sebagai jawaban atas permintaan Sultan Aceh, Alaudin Riayat Syah.

Di Turki bintang bulan, kita juga bintang bulan. Selain itu bintang bulan juga sebagai lambang muslim. Kemudian sebagai ciri khas Aceh ditaruh pedang on jok,” kata Nurdin.

Pendapatnya tentang Alam Peudeung sama seperti pendapat Rusdi.

Kita lihat ini persis pedang Aceh. Ini ada tameng di tangan. Ini kunci pedang (ia menunjuk ukiran didepan gagang pedang), pedangnya juga tipis dan lentik seperti daun aren kemudian ada ini (ia menunjuk benda runcing yang menyerupai paku di belakang pegangan pedang), ini juga senjata pamungkas,” lanjutnya.

Menurut Nurdin, ketika pemakai pedang terdesak dalam pertempuran, ujung pedang tersebut dapat menjadi senjata yang ampuh untuk melukai atau memberikan kejutan balik ke lawan.

Pembicaraan kami akhirnya kembali ke bendera.


Orang Aceh menyebut bendera: alam. Dari kata Arab. Ini kan yang disebut bendera Aceh.” Nurdin menunjuk kertas salinan ilustrasi bendera yang bergambar sebilah pedang terlentang dan bulan bintang di atasnya.

Kalau itu kan tidak disebut (Alam Peudeung). Disebut bendera perang! Iya kan. Maka bendera perang itu selalu diiringi oleh pedang. Pedangnya berbeda, lalu di dalam ini ada tulisan-tulisan semacam ajimat penangkal, hikmah-hikmah yang dipakai dalam pertempuran untuk memecah pasukan lawan agar menang, supaya pasukannya berani,” tuturnya, panjang lebar.

Nurdin membaca satu demi satu tulisan Arab yang tertera di balik bendera tersebut.

Nah ini Ali…ini kan salah satu panglima perang ketika zaman Nabi. Lau….” Ia kembali meneruskan bacaannya, “Ya man huwa (wahai Dia)..Ya man la illaha illa huwa (Wahai Dia, tiada Tuhan melainkan Dia).


Kenapa ada dua bendera dalam satu negara?” tanya saya, heran.

Ini kan kalau dalam keadaan damai dipakai bendera putih. Semacam pertanda membawa misi damai. Tapi kalau mau bendera Aceh seperti bendera merah putih ya… ini (menunjuk bendera yang bergambar pedang serta bulan bintang),” jawabnya.

Dulu ini (bendera perang yang direbut Belanda dari pasukan Kerajaan Aceh di Barus) ada di sini (Museum Aceh) tapi entah siapa yang pinjam. Pada saat zaman (kepemimpinan) Pak Zakaria dulu, bukan pada saat kepemimpinan saya. Entah kepala yang ketiga, pokoknya jauh sebelum saya.” Nurdin mencoba mengingat-ingat.

Saat itu kondisinya memang sudah hancur, kemudian ada orang yang pinjam. Saya juga belum pernah lihat bendera itu, tapi kalau bendera warna putih kita masih punya,” tuturnya.


Bendera tersebut secara fisik tidak ada lagi, tapi secara memori kolektif kita tidak hilang kan,” katanya, lagi.

GAM (Gerakan Aceh Merdeka) memakai garis hitam, itulah dinamika, perkembangan, tapi identitas Aceh tidak pernah hilang, bintang bulannya,” tambahnya sembari, kembali tersenyum.

GAM memakai lambang bulan bintang di atas dasar merah dengan tambahan beberapa garis pada tepi atas dan bawahnya.

Nurdin mengatakan bahwa bila orientasi masyarakat berbeda maka lambang akan berbeda. Simbol itu penting buat orang Timur, katanya.

Kehidupan bisa saja berubah, apakah di Aceh cukup ada Alam Peudeng dan sebagainya mungkin itu bisa berubah lagi tergantung harapan masyarakat. Karena harapan itu adalah doa kan.” Ia kembali terseyum.

WACANA tentang bendera Aceh mulai berhembus ketika isi poin 1.1.5 Perjanjian Helsinki menyatakan bahwa Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah, seperti bendera, lambang dan hymne. Hal ini kembali ditegaskan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh Nomor 11 tahun 2006. Khususnya pasal 246 ayat 2 dan 3 serta bunyi pasal 247. Lambang tersebut berkedudukan sebagai identitas daerah yang berfungsi sebagai pengikat kesatuan budaya masyarakat daerah dalam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Jika Rusdi Sufi dan Nurdin AR sependapat bahwa Alam Peudeung adalah bendera yang bergambar pedang on jok dan bulan bintang di atasnya, maka Ridwan Azwad, sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) berpendapat beda.

Saya sangsi (ragu) itu adalah Alam Peudeung,” tutur Ridwan, merujuk pada ilustrasi alam peudeung yang ada di buku Tarikh Aceh dan Nusantara karya Zainuddin.

Saya lebih mengarah ke Brooshoff. Dia bilang ada keris bersilang. Tidak dibilang bintang beulen (bintang-bulan) kan. Kalau pun ada gambar yang beredar tapi kita sanksi juga dari mana mereka dapatkan… bisa saja ini imaginasi saja,” tuturnya.

Brooshoff adalah penulis buku Geschiedenis van den Atjeh Oorlog 1873-1886 (Sejarah Perang Aceh 1873-1886). Buku yang diterbitkan tahun 1936 tersebut berbahasa Belanda dan belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Dalam buku tersebut ditulis: De Atjehsche vlag is den witte kris op een rood veld. Soms ziet men ook in plaats van de kris, twee witte gekruiste klewang (Bendera orang Aceh adalah bergambar keris putih pada dasar berwarna merah, terkadang juga orang melihat keris tadi, menjadi dua pedang (klewang) putih yang bersilang)

Apa pengertian keris di situ rencong? Bisa jadi saat itu dia tidak tahu nama senjata kita itu. Soalnya mirip keris kan,” tutur Ridwan.


Rencong adalah senjata tradisional Aceh yang diciptakan di masa Sultan al-Kahar. Bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat lebih dekat bentuknya menyerupai kaligrafi tulisan Bismillah.

Ridwan juga menceritakan bahwa dalam buku Kreemer jilid II dikatakan bendera Aceh bernama Alam Cap Peudeung yang juga dinamakan Alam Radja. Di situ juga disebutkan ada “alam” merah saat perang, juga “alam” putih saat damai yang disebut alam ta’ lo.

Sejak kecil Ridwan terbiasa dengan buku-buku sejarah. Maklum, kakek dan ayahnya juga berkerja di bidang yang sama. Ayahnya, Aboe Bakar, bahkan pernah menjabat direktur harian PDIA. Ketika itu ayah Ridwan banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa Belanda ke bahasa Indonesia guna memperkaya referensi sejarah Aceh.

Tapi saya lebih cenderung (pada) laporan di buku Broshoof. Memang orang Aceh ada istilah panji. Tapi saya selain yang Broshoof bilang itu, yang lain masih kabur,” katanya, tegas.


Ridwan juga mempertanyakan sumber keterangan soal Alam Peudeung yang terdapat di buku Zainuddin.

Jangan mentang-mentang ada lukisan itu kita langsung mengatakan itu Alam Peudeung. Kapan dia lukis itu, bagaimana sumbernya? apakah imajinasi? Tidak jelas,” ujarnya, dengan mimik serius.

Dalam Tarikh Aceh dan Nusantara terdapat gambar penyambutan Sultan Alaudin Riayat Syah al-Mukamil terhadap utusan dari Ratu Inggris Elizabeth I di bawah pimpinan Sir James Lancaster. Tampak beberapa orang penari berpakaian seperti penari Hindu dalam gambar tersebut. Namun, tidak dijelaskan bahwa gambar itu ilusrasi pelukis Belanda bernama C. Jetses yang mengkhayalkan penyambutan Lancaster dalam bentuk lukisan!

Itu hal kecil tapi bisa jadi ribet nantinya. Bagaimana kalau itu dikutip lagi sama buku lainnya,” kata Ridwan, gusar.

Kalau di buku Van Langen, Weskuest van Aceh (Aceh bagian Pantai Barat) ada pernah saya lihat gambar bendera yang pernah direbut di pantai barat. Tidak ada bulan bintangnya,” kenangnya.


Kalau saya pribadi masih kabur, pajan bendera nya na (kapan bendera itu ada). Timbul pertanyaaan apa pada Ali Mughayat Syah sudah ada bendera. Dulu kan kerajaan Ali Mughayat Syah kecil, kemudian jadi besar,” tuturnya.

Ali Mughayat Syah adalah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Pada awalnya sebuah kerajaan yang terletak di ujung pulau itu bukan kerajaan penting namun setelah mempersatukan semua kekuatan anti-Portugis yang bermarkas (telah menguasai) di Pidie (1521) dan Pasai (1524), kerajaan tersebut besar dan memainkan peranan penting dalam monopoli eksport hasil produksi Sumatra dan Malaka.

Yang jelas Alam Peudeung itu pada zaman yang sultan sudah kuat, tapi kita belum tahu yang mana,” sambungnya.

Tapi Pak, dalam ingatan kolektif orang tua itu kan masih tinggal kenangan bendera Peudeung?” bantah saya, terkenang ucapan Nurdin tentang ingatan orang-orang tua.

Orang tua itu berapa umurnya?” Ia terseyum penuh arti. “Orang zaman itu kan sudah mati, belum tentu mereka mewariskan ceritanya kepada anak-anak mereka,” lanjut Ridwan.


Dalam sejarah, kesaksian itu ada dua, primer atau penyaksi langsung dan sekunder atau dari orang kedua. Contohnya seperti kita bilang kata neneknya, kan itu bukan dia yang lihat. Tidak setiap keterangan kita harus percaya kalau kita kembali ke metodologi sejarah. Jadi jangan setiap yang datang kita telan semua,” katanya.

Alam Peudeung itu sendiri dari sumber Belanda, tapi tentu saja dia melakukan dengan riset yang kuat. Kalau saya tidak bisa terima ilustrasi tersebut, apa betul begitu? Kalau kita lihat laporan Belanda itu kan bersilang. Lagian tidak pernah disinggung kan bendera kita bintang buleun, “ jawabnya dengan nada sedikit tinggi. Setelah itu ia menghela napas.

Jangan terima begitu saja sumber yang tidak jelas, kita mesti kritis,” tuturnya. Ridwan ingin ada penelitian lebih lanjut tentang bendera Aceh.